Saturday, November 26, 2011

Perilaku Terpuji

PERILAKU TERPUJI

Pengertian
Husnuzzan adalah sikap terpuji yang artinya berbaik sangka. Orang yang selalu berbaik sangka akan mendapatkan ketenangan / kebahagian hidup. Lawan dari Husnuzzan adalah Su’uzzhan yang artinya berburuk sangka. Kita harus berbaik sangka kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia. Karena apapun yang ditakdirkan Allah SWT merupakan suatu yang terbaik bagi kita baik itu nikmat maupun musibah.

Contoh perilaku Husnuzzan :

1.    Husnuzzan Terhadap Allah SWT
       Maksudnya adalah Allah SWT memberikan sesuatu kepada kita petunjuk / hidayah adalah hasil dari perbuatan yang baik / shaleh sedangkan kemaksiatan / dhulalah adalah buah amal perbuatan buruk.
Firman Allah SWT :
Artinya :
“ dan orang – orang yang mau menerima petunjuk, Allah SWT menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya” (QS. Muhammad 17)”

       Orang yang mempunyai sifat Husnuzan akan terhindar dari penyakit hati seperti : iri, hasad, dengki, dan ria. Rasulullah sendiri bersikap dan ber-akhlakul mahmudah (akhlak mulia) sepanjang hidupnya. Sehingga belian pernah memberikan penghargaan tersendiri kepada pengikutnya yang berakhlak baik. Misalnya, suatu ketika Rasulullah diberitahu bahwa seorang perempuan bernama Fulanah rajin, shalat, dan sedekah, tetapi suka menyakiti tetangga dengan mulutnya. Apa kata Rasulullah ? “ Dia (Fulanah) akan masuk neraka.” Kemudian sahabat itu juga menunjukkan seorang lagi yang sedikit shalat dan puasanya, jarang shalat, kecuali yang fardu saja, tetapi dia tidak menyakiti tetangganya. Apa kata Rasulullah ? “ Dia akan masuk surga.”
       Diantara akhlak terpuji yang dicontohkan Rasulullah ialah bahwa dia memiliki sifat sabar dalam kehidupannya. Sabar artinya orang yang mampu menahan diri atau mampu mengendalikan nafsu amarah. Sabar juga sering disebut dengan kemampuan seseorang dalam menahan emosi.
       Sebenarnya orang yang sabar adalah orang yang keras, yaitu keras dalam menahan nafsu amarah.

Artinya : “ Bukan urusan kekuatan seseorang itu dengan bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang menahan hawa nafsunya pada waktu marah. (HR. Muttafaq Alaih).

       Orang yang sabar bila menerima musibah, ia akan mampu mengendalikan perasaannya. Sehingga ia tidak hanyut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Apalagi jika seseorang itu menyadari segala musibah dan cobaan itu datangnya dari Allah juga.
       Hidup di dunia tidak luput dari cobaan. Cobaan itu bisa berupa kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, serta suka dan duka. Adakalanya hal itu dialami diri sendiri, keluarga, sahabat dan sebagainya
       Apa yang dialami manusia datangnya dari Allah SWT dan merupakan ujian hidup. Berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam hidup ini akan menambah keimanan kita apabila kita ikhlas menerimanya. Allah SWT menggambarkan dalam Al-Qur’an berbagai macam cobaan yang akan dialami manusia serta bagaimana seharusnya sikap manusia dalam menerima cobaan tersebut.
   
“ Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita yang gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “ Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. “  (QS. Al-Baqarah : 155 – 156)

Cara Membiasakan Sabar
a.    Zikrullah (Mengingat Alla)
       Firman Allah dam Surah Ar-Ra’d ayat 28 menjelaskan sebagai berikut :

       الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“ (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan tentram.” (QS. Ar-Ra’d : 28)
   
        Zikir bisa melalui pengucapan lisan dengan memperbanyak menyebut asma Allah. Tetapi, zikir bisa dilakukan dengan tindakan merenung dan memperhatikan kejadian sekeliling kita dengan tujuan menarik hikmah. Sehingga akhirnya sadar bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah juga. Orang yang sabar selalu mengingat Allah dan menyebut asma Allah apabila menghadapi kesulitan atau musibah.

b.    Mengendalikan Emosi
Agar seseorang bisa berbuat sabar, maka harus berlatih mengendalikan emosi. Ada beberapa cara bisa dilakukan dalam melatih mengendalikan nafsu atau emosi ini, antara lain : 
  1. Melatih serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, salat, puasa, dan ibadah lainnya. Seseorang tidak akan terus melampiaskan berang atau kemarahannya apabila ayat suci Al-Qur’an di baca. Oleh karena itu, bukan hal yang aneh bila bacaan ayat suci Al-Qur’an bisa digunakan untuk melerai orang yang bertikai. Demikian pula Rasulullah SAW memberikan resep dalam memendam amarah. “ Berwudhulah” demikian anjuran Rasulullah SAW.
  2. Menghindari kebiasan-kebiasan yang dilarang agama. Orang yang mampu menghindarkan diri dari kebiasan yang dilarang agama, akan membuat kehidupan terbiasa dengan hal-hal yang baik dan tidak mudah melakukan perbuatan yang keji, misalnya berjudi, minum-minuman keras, berkelahi, mengeluarkan kata-kata kotor, menyebar fitnah, dan masih banyak lagi.
  3. Memilih lingkungan pergaulan yang baik. Agar bisa menjadi manusia yang bersifat sabar, maka bisa diperoleh dengan memasuki lingkungan pergaulan yang baik. Memilih teman yang memiliki akhlak yang baik, yang cinta akan kebenaran, kebaikan, dan keadilan.

2.    Husnuzzan Terhadap Sesama Manusia.
  • Kita harus berhusnuzan dan berfikir positif, karena belum tentu orang lain seburuk yang kita fikirkan.
  • Berbaik sangka dapat menyelamatkan hati dan hidup kita sebab hati tidak menyimpan kebencian.
  • Berbaik sangka dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan.
  • Husnuzan dan berfikir positif bisa membuat hidup kita bahagia.

Membiasakan perilaku Husnuzzan dalam kehidupan sehari – hari :
  • Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Orang yang memiliki keimanan kuat kepada Allah akan memiliki sikap Husnuzan. Oleh karena itu, kualitas keimanan harus selalu ditingkatkan dengan mempelajari Ilmu ketuhanan yaitu ilmu ma’arifat.
  • Maningkatkan kualitas dan kuantitas amal saleh. Kita harus meningkatkan kualitas amal saleh artinya kualitas dengan segala hal. Berawal dari niatnya dan selain kualitas kita juga harus meningkatkan kuantitas amal saleh.
  • Meningkatkan hubungan silaturahmi. Silaturahmi artinya menyambung kasih sayang, terhadap sesama yang tidak terjalin tanpa adanya interaksi maupun komunikasi.
  • Meningkatkan kualitas ilmu. Orang yang memiliki kualitas ilmu yang baik akan memiliki sifat yang bijaksana dan akan cenderung memikirkan kesalahan diri sendiri dan yang ditakutinya hanyalah Allah SWT.

3.    Gigih, Berinisiatif, dan Rela Berkorban
   1)    Gigih
       Gigih berarti berkemampuan dalam usah mencapai suatu cita-cita. Gigih sebagai salah satu dari akhlakul karimah (akhlakul mahmudah) sangat diperlukan dalam suatu usaha. Jika ingin mencapai hasil yang optimal, suatu usaha harus dilakukan secara gigih, dengan semangat yang tinggi, dan penuh kesungguhan hati. Seorang pelajaran harus gigih dalam belajar guna mencapai hasil yang optimal.
   2)    Berinisiatif
       Berinisiatif artinya senantiasa berbuat sesuatu yang sifatnya produktif. Berinisitaif menuntut sikap kerja keras dan etos kerja yang tinggi. Tentu tidak hanya kerja keras saja melainkan dengan ketekunan, ketelitian, penguasaan ilmu dan teknologi senantiasa mengefisienkan waktu dalam menyelesaikan permasalahan atau pekerjaan. Cara dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut di atas disebut produktivitas kerja. Senantiasa meningkatkan etos kerjanya untuk menghasilkan yang lebih baik.
   3)    Rela Berkorban
       a.    Makna Rela Berkorban dalam Kehidupan Masyarakat
          1)    Pengertian rela berkorban
      Rela berarti sedia ikhlas hati, tidak mengharapkan imbalan atau dengan kemauan sendiri. Berkorban berarti memberikan sesuatu yang dimliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berkorban dalam kehidupan bermasyarakat bersedia dan ikhlas memberikan sesuatu (tenaga, harta, pemikiran) untuk kepentingan orang lain dan masyarakat. Walaupun dengan berkorban akan menimbulkan cobaan penderitaan bagi dirinya sendiri.
        2)    Pola keikhlasan berkorban dalam berbagai lingkungan kehidupan
   Setiap orang atau setiap individu mempunyai kepentingan sendiri sesuai dengan keperluannya. Jika setiap orang hanya mengejar kepentingan sendiri tanpa memperdulikan kepentingan orang lain, akan terjadi perselihan dan pertengkaran dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, kita sebagai muslim yang memiliki kepribadian luhur, wajib mengendalikan diri dalam sikap dan perbuatannya demi kepentingan umum. Kepentingan umum atau masyarakat harus didahulukan daripada kepentingan pribadi atau individu. Disinilah perlunya kita memiliki keikhlasan berkorban demi kepentingan yang lebih luas. Kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.
a)    Pola keikhlasan berkorban dalam lingkungan kehidupan keluarga, antara lain 
  1.  Orang tua memberikan biaya untuk sekolah anak-anaknya.
  2. Orang tua memelihara, mengasuh, dan membidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
b)    Pola keikhlasan berkorban dalam lingkungan kehidupan sekolah antara lain : 
  1. Para siswa memberikan sumbangan buku di perpustakaan sekolah.
  2. Para siswa dan guru mengumpulkan dana sukarela untuk meringankan warga yang tertimpa musibah banjir.
c)    Pola keikhasan berkorban dalam lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara, antara  lain :
  1. Para warga negara atau warga masyarakat membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan.
  2. Warga masyarakat merelakan sebagian tanahnya untuk pembangunan irigasi dengan memperoleh ganti rugi yang layak.

No comments:

Post a Comment